Tampilkan postingan dengan label Sambas seram. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sambas seram. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 Oktober 2013

Kronologis Kerusuhan Sambas 1999 Di Kabupaten Sambas

3 komentar
 
gambar tragedi kerusuhan sambas 1999
1. Latar belakang.

a. Awal peristiwa dilatar belakangi kasus pencurian ayam oleh seorang warga suku Madura yang ditangkap dan dianiaya oleh warga masyarakat suku melayu.
(lokasi kejadian di kecamatan jawai; tang dak tau juak labeh jelasnye antol manenye)

b. Peristiwa berkembang dengan bergabungnya ratusan warga suku Madura dan menyerang warga suku Melayu yang berakibat 3 orang suku Melayu meninggal dunia dan 2 orang luka-luka.
(Issu yang terdengar ada sekitar 2-3 mobil truk yang menyerang perkampungan melayu di Pasar Parit Setia Jawai. Pada saat itu melayu tidak melawan sama sekali kecuali beberapa orang jago yang merasa punya ilmu lebih (kebal). Baku hantam pun tak terhindarkan lagi, api perang sudah dihidupkan dan oleh karena perlawanan yang tak seimbang dan titik lemah orang melayu kebal tersebut diketahui (kabarnya dengan menghadirkan gadis bugil) maka 3 orang jagoan melayu gugur di medan perang pada saat Lebaran Pertama Idul Fitri. (Untuk mengenang peristiwa ini maka dibangunlah Tugu Ketupat Berdarah di Pasar Parit Setia Jawai). Melayu kalah telak dan setelah puas menyincang-nyincang tubuh mangsanya maka pasukan lawan pulang membawa kemenagannya denga yel-yel "MELAYU KEROPO'K - MELAYU KEROPO'K". Lebaran itu adalah lebaran pahit di tanah sambas.
Berhubung suasana lebaran walaupun begitu mencekam maka kabar ini meluas dengan cepat ke seluruh pelosok sambas ditambah bumbu-bumbu penyedap yang semakin menyulut api semakin membara maka luka-luka terpendam selama berpuluh-puluh tahun terasa sakit kembali bahkan begitu perih melebihi sakit saat pertama luka hingga memunculkan kesepakatan tak tertulis di seluruh jiwa sambas "Tunggu kau bikin ulah lagi, kami tak akan pernah memaafkanmu".

c. Selain itu terjadi pula kasus perkelahian antara kenek angkot warga suku Melayu dengan penumpang angkot warga suku Madura yang tidak mau membayar ongkos.
(Lokasi kejadian di sekitar semparuk)

d. Akibatnya terjadi saling balas membalas antara warga suku Melayu dibantu suku Dayak menghadapi warga suku Madura dalam bentuk perkelahian, penganiayaan dan pengrusakan.
(Ini terjadi di malam harinya setelah kejadian kenek angkot diatas. Pada awalnya massa berkumpul dipasar semparuk untuk mengkonfirmasi kejadian kenek angkot tersebut. Berkaca dari kasus jawai ; karena biasanya setelah terjadi baku hantam antar 2 suku maka suku lawan akan balas menyerang maka dalam sekejap massa berkumpul mencapai ribuan orang di sekitar semparuk menghadapi serangan lawan dengan perlengkapan seadanya. Karena lawan yang ditunggu-tunggu tidak juga datang menyerang maka massa yang tak tertahankan emosinya menghancurkan beberapa kediaman suku lawan. Oleh karena massa berjumalah ribuan orang maka situasi tak dapat dikendalikan, pengrusakan hingga pembakaran terjadi hampir diseluruh kediaman warga madura yang berdomisili di semparuk. Puluhan rumah hangus terbakar pada saat itu juga. Pembakaran ini mulai dilakukan sekitar jam 08.30 malam. Tidak jelas apakah pada peristiwa semparuk ini terdapat korban jiwa. Warga madura yang berdomisili di semparuk seluruhnya mengungsi ke desa sebelah yaitu Sempadung dan dikabarkan membentuk kekuatan untuk balas menyerang. Saya sendiri yang berkediaman sekitar 2km dari lokasi kejadian sempat melihat cahaya api membara di berbagai titik kejadian selain itu juga mendengar bunyi tembakan dan gemuruh tiang listrik dipukul2. Berhubung saya masih sangat kecil tidak diizinkan melihat lebih dekat lagi malahan dipaksa tidur dini.

Pada pagi harinya jalanan sangat lengang. Saya masih duduk di kelas 5 SD pada waktu itu dan memaksakan diri untuk tetap berangkat ke sekolah, namun sebagian besar teman-teman sekolahku tidak masuk sekolah karena takut atau lebih tepatnya dilarang orang tuanya karena situasi begitu mencekam. Saat itu ada pembagian kue gratis di sekolah "Makan Tambahan Anak Sekolah (MTAS) program pemerintah. Stok kue yang seharusnya di bagikan ke seluruh anak sekolah terpaksa kami boyong sepuasnya. heee. Lagi enak-enak makan eh Ayah menjemputku dengan sepeda buntutnya, kue dimasukan ke dalam tas ampe gak muat dan sepeda di kayuh ayah dengan ngebut sekuat tenaga. Situasi tidak aman katanya, kita harus cepat nyampi di rumah dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.

e. Peristiwa berkembang dengan terjadinya kerusuhan, pembakaran, pengrusakan, perkelahian, penganiayaan dan pembunuhan antara warga suku Melayu dibantu warga suku Dayak menghadapi warga suku Madura, yang meluas sampai kedaerah sekitarnya.

Setelah peristiwa pembakaran pada malam harinya. Suasana makin parah, issu beterbangan semakin tak jelas dan sembrawut, yang paling menakutkan adalah suku madura balas menyerang. Pengungsian melayu tak terhindarkan lagi. Akan tetapi kebanyakan tak tau dimana tempat yang aman, maka mengumpullah warga-warga melayu di salah satu rumah dan dijaga ketat kaum adam.

Harta benda yang dianggap berharga di sembunyikan dalam tanah. yang bisa diboyong di bungkus dan diseret kemana-kemana. Saya sendiri sempat membantu Ibu membereskan bungkusannya dan di sembunyikan di belakang rumah terus di tutup dengan plastik. heee lucu kan???? Tanah dibelakang rumah dianggap lebih aman dari di dalam rumah.

Sementara itu kaum adam sibuk mempersenjatai diri, apapun di pakai untuk mempertahankan diri, dari senapan angin, tombak, ketapel, parang, kayu hingga bambu runcing selalu ditenteng. Sore harinya kami diboyong untuk mengungsi ke rumah Nek Aki (Kakek) di Seburing yang lokasinya agak sedikit lebih jauh dari lokasi penggempuran pertama. Menurut desas desus cerita pada waktu itu perlawanan sengit terjadi terutama pada malam hari. Yang jelas warga madura tidak ada yang menyerang perkampungan melayu. 

Karena kekhawatiran yang tinggi pihak madura akan melakukan serangan balasan maka penggempuran perkampungan madura semakin giat di lancarkan. Disekitar wilayah semparuk warga madura banyak yang berdomisili di desa Sempadung.

Tidak seperti penggempuran di semparuk, di sempadung memerlukan energi yang eksta untuk menembusnya. Dua hari dua malam pengepungan belum mampu menembus brekade madura di desa itu. Setelah bantuan datang dari segala penjuru sambas hingga warga dayak pun turun tangan akhirnya Sempadung pecah juga selama hampir seminggu. Disinilah banyak berguguran para pejuang di kedua belah pihak. Pada pagi itu saya masih nekat ke sekolah tapi baru jam 10 sudah di suruh pulang oleh guru dengan alasan keamanan. Dan ternyata tidak jauh dari sekolah ada seorang pemuda yang baru seumuran SMA gugur pada saa perang memecahkan sempadung pada malam harinya.

Saya pun penasaran dan mampir ke rumah tersebut dan setelah beberapa teman ikut menyakiskan mayat tersebut dan pingsan di tempat saya urungkan niat melihat Si mayat. Kabarnya pemuda melayu itu di cincang-cincang, kepalanya hampir putus dan wajahnyapun sulit dikenali dengan pakaian berlumuran darah dan baju yang sobek dicincang. Mengerikan memang,,,, belum lagi kabar yang menyatakan bahwa beberapa kepala "Preman Madura" yang sering bikin ulah pada waktu jaya nya dulu di arak keliling pasar dan dijadikan bola kaki. Ada juga yang sengaja memamerkan kepala "Preman" yang sangat di benci warga tersebut di atas drum di pinggir jalan.

Biar semua orang lewat bisa melihat bahwa si anu yang katanya paling hebat dulu telah jadi mayat. Ada yang iseng menyompeli kepala tanpa badan tersebut dengan rokok bahkan ada juga yang mengatakan kemaluannya dipotong dan disompelkan ke mulutnya kayak orang merokok. Sadis ya........... Tapi itu cerita orang saya tidak berani menyatakan kebenarannya karena tidak sempat melihat dengan mata kepala sendiri.

f. Telah terjadi pengungsian warga suku Madura secara besar-besaran. Kemudian isu ini dieksploitir oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingannya. Merasa diatas angin dan berhasil memecahkan pertahanan sempadung yang dianggap sebagai pertahanan terkuat Madura maka penggempuran desa-desa lainnya tak dapat dielakkan lagi.

Kerusuhan secara cepat meluas seperti membakar hutan di musim kemarau. Tanpa komando dan perintah satu persatu perkampungan madura di bumi hanguskan. Yang selamat berupaya mengungsi menyelamatkan diri. Menurut desas desus cerita sebelum menggempur suatu perkampungan madura sebelumnya sudah dikonfirmasi terlebih dahulu dengan peringatan "kampung anda akan segera kami musnahkan kalau mau selamat segera melarikan diri, yang bertahan / melawan akan dipotong".

Pada dasarnya warga madura yang membaur dengan warga melayu dengan segala upaya akan diselamatkan warga melayu dan di urus agar segera mengungsi ke luar sambas dengan catatan rumah mereka pasti hancur/dibakar.

Saya banyak bukti akan hal ini. contohnya di kampung kami, warga madura tak ada yang tewas/dipancung. Yang menyerang perkampungan madura di suatu tempat adalah warga melayu dari daerah lain bukan warga melayu setempat. Sebalikanya warga melayu tersebut tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berupaya menyelamatkan warga madura agar mengungsi keluar sambas.

Celakanya kerusuhan berawal pecah dari pesisir (semaparuk dan sekitarnya) hingga sulit mengungsikan madura keluar sambas. Warga madura yang menyelamatkan diri banyak yang berlarian ke arah hulu sambas hingga pengungsian keluar sambas tidak bisa dilakukan kecuali lewat jalur laut.

Disini lah banyak banyak berjatuhan korban karena akses laut juga tidak lancar sedangkan penggempuran semakin tak terbendung sampai ke seluruh pelosok negeri sambas termasuk daerah Sui Duri, Sui Pangkalan, Menterado hingga Bengkayang yang saat itu masih tergabung dalam Kab. Sambas. 

g. Peristiwa ini adalah kejadian yang kesepuluh sejak tahun 1977 dan juga pernah terjadi terhadap etnis yang lain. Setahu saya kerusuhan melayu dan madura tidak pernah terjadi sebelumnya. Kalau perkelahian antar sekelompok pemuda mungkin saja. Yang jelas Dayak VS Madura memamang sering terjadi.

2. Kronologi peristiwa.

a. Pada tanggal 17 Januari 1999 pukul 01.30 WIB telah ditangkap dan dianiaya pelaku pencurian ayam warga suku Madura oleh warga suku Melayu.

b. Pada tanggal 19 Januari 1999 sekitar 200 orang suku madura dari suatu desa menyerang warga suku Melayu desa lainnya.

c. Hari berikutnya terjadi perkelahian antara warga suku Madura dan warga suku Melayu karena tidak membayar ongkos angkot. Kejadian ini berkembang menjadi perkelahian antara kelompok dan antara desa yang disertai pembakaran, pengrusakan dan tindak kekerasan lainnya.

d. Warga suku Melayu dibantu suku Dayak melakukan penyerangan, pembakaran, pengrusakan, penganiayaan dan pembunuhan terhadap warga suku Madura dan selanjutnya saling membalas.

e. Peristiwa berkembang dengan terjadinya pengungsian warga Madura dalam jumlah cukup besar menuju Singkawang dan Pontianak.

f. Tindakan aparat keamanan antara lain :
- Melokalisir dan mencegah meluasnya kejadian,
- Membantu mengevakuasi para pengungsi, melakukan pencarian dan penyelamatan suku Madura yang melarikan diri kehutan,
- Membantu para pengungsi ditempat penampungan,
- Mengadakan dialog dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama, serta
- Melakukan upaya penegakan hukum terhadap para pelaku kriminal.

g. Korban akibat kerusuhan Sambas terdiri dari, meninggal dunia 489 orang, luka berat 168 orang, luka ringan 34 orang, rumah dibakar dan dirusak (3.833), mobil dibakar/dirusak (12) dan motor (9), masjid/madrasah dirusak/dibakar (8), sekolah dirusak (2), gudang dirusak (1) dan warga Madura mengungsi 29. 823 orang. Kalo yang ini kayaknya datanya tidak akurat. Saya memperkirakan lebih dari 1000 orang warga madura yang meninggal dunia alias dipancung. Banyak penguburan massal yang dilakukan warga melayu di suatu tempat. Sekitar 500m dari kediaman saya juga sempat dikuburkan 1 orang mayat madura akan tetapi dipindahkan lagi ke TPU. Kawan saya juga pernah mencari kayu bakar di pinggiran sungai (5 tahunan setelah kerusuhan) dan ia menemukan tengkorak manusia yang diduga korban kerusuhan. Banyak lagi deh ditemukan tengkorak-tengkorak manusia di hutan-hutan lainnya. Apakah ini terdata oleh kepolisian???? tentu tidak kan?????

3. Proses Hukum.

a. Pelaku yang ditangkap 208 orang dan dalam proses peradilan sebanyak 59 orang, yang terdiri dari suku Madura 13 orang, suku Melayu 42 orang dan suku Dayak 4 orang.

b. Barang bukti disita 607 pucuk senjata api rakitan, 2.336 senjata tajam, 76 bom molotov, 86 ketapel, 969 anak panah, 8 botol dan 8 toples obat mesiu, 443 butir peluru timah, 79 peluru pipa besi, 349 butir peluru setandard ABRI dan 441 butir peluru gotri.

4. Kesimpulan.

a.
Peristiwa ini berakar antara lain pada masalah kesenjangan pendidikan, marginalisasi suku tertentu dalam menduduki posisi di pemerintahan, kesenjangan ekonomi antara suku pendatang dan suku asli serta adanya benturan budaya/perilaku sosial. Yang ini agak meramput ye,,,, lebih jelasnya baca berita kompas di posting saya sebelumnya.

b. Kerusuhan massal dipicu oleh adanya perkelahian individu antara suku yang berbeda dan selanjutnya meluas keseluruh kabupaten Sambas.

c. Kehadiran Pasukan Penindak Kerusuhan Massal (PPRM), telah banyak membantu penyelesaian peristiwa ini.

d. Masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk seyogyanya selalu saling menghormati adat istiadat masing-masing dan senantiasa menjaga Persatuan kesatuan.

TNI dan Polri selalu memprioritaskan untuk menjaga harmoni kehidupan yang telah dinikmati masyarakat Indonesia yang majemuk. Menyikapi peristiwa Sambas, TNI dan Polri telah menjalankan perannya sebagai pasilitator sekaligus menyelaras demi tercapainya titik temu antara kelompok masyarakat yang bertikai.


Readmore...
Sabtu, 19 Oktober 2013

Kisah atau cerita jembatan Sambas Kalbar

0 komentar
 
gambar jembatan sabbok
Jembatan Sambas amat terkenal dan menjadi penghubung antar kota di kawasan selatan propinsi Kalimantan Barat. Jembatan ini bukan hanya bersejarah, tapi juga dianggap keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Banyak kejadian aneh berlaku di jembatan sepanjang 150 m ini. Seperti penampakan-penampakan bangsa lelembut dan mahluk halus. Dulu, jembatan ini luput dari kehancuran saat dibom tentara Jepang.

Jembatan Sambas terletak di kota Sambas, atau berjarak 270 Km dari ibukota propinsi Kalimantan Barat, Pontianak ke arah selatan. Jembatan ini dianggap vital karena menghubungkan kota Bengkayang, Singkawang, Pemangkat, Sambas dan daerah-daerah kecil di bagian selatan Kalbar. Boleh dikata, ini jembatan satu-satunya yang menjadi nadi ekonomi dan transportasi masyarakat di sana. Keberadaan jembatan ini tak bisa lepas dari keberadaan kota Sambas yang unik.

Kota keramat

Kota Sambas sendiri dikenal sebagai kota keramat karena konon dikuasai oleh kaum Bunian (mahluk halus). Tak heran bila kota ini kerap disebut pula sebagai Negeri Kebenaran, sebutan lain untuk kaum Bunian. Menurut sejarah, Sambas tempo dulu merupakan sebuah kerajaan besar yang tilas-tilasnya hingga kini masih ada. Tak jauh dari pusat kota, masih berdiri Keraton Sambas yang megah, lengkap dengan kompleks keluarga kesultanan.

Kerajaan Sambas didirikan oleh Raden Soelaiman, yang bergelar Soeltan Moehammad Tsafioeddin I di Tanjung Muara Ulakan Lubuk Madung, pada tahun 1080 hijriah atau tahun 1687 masehi. Kerajaan ini mengalami masa jaya semasa diperintah oleh Soeltan Moehammad Tsafioeddin II. Cerita dari mulut ke mulut menyebut daerah ini kerap kedatangan kaum Bunian setelah salah seorang putra mahkotanya yang bernama Raden Sandi Braja menghilang secara misterius dan menjadi raja di kerajaan Bunian.

Menurut cerita, jenazah raden Sandi meninggal karena sakit yang tidak ada obatnya, dan kemudian jasadnya menghilang diambil kaum Bunian. Lalu Raden Sandi dijadikan raja kaum Bunian yang berpusat di Kecamatan Paloh. Peristiwa itu terjadi sebagai tebusan atas nyawa burung peliharaan sang Puteri Kebenaran (kaum Bunian) pada saat beliau berburu di hutan Paloh. Hanya saja, sejauh mana kebenaran cerita ini masih sulit dibuktikan.

Jembatan Sambas

Bagaimana dengan jembatan Sambas yang keramat itu? Benarkah jembatan ini tak mempan dibom oleh tentara Jepang? Pada tahun 1941, tanda-tanda berakhirnya pendudukan 3,5 abad tentara Belanda di nusantara mulai terlihat. Pasukan Jepang mulai terlihat memasuki kawasan nusantara dengan peralatan tempurnya. Termasuk daerah Kalimantan Barat. Pasukan Jepang memang berusaha keras mematahkan kekuatan Belanda yang ada di Kalimantan Barat termasuk Sambas. Salah satunya melumpuhkan sarana ekonomi dan transportasi darat, seperti jempatan.

Nah, negeri matahari terbit itu melihat jembatan Sambas sangat vital dan perlu dihancurkan untuk melumpuhkan kekuatan Belanda. Bulan Desember 1941, menjadi saksi bisu. Dengan melibatkan sekitar 27 pesawat tempurnya, tentara Jepang menyerang Angkatan Udara Belanda di Sanggau Ledo. Ternyata target serangan tersebut tidak saja untuk menghancurkan pangkalan Angkatan Udara Belanda, namun juga pada jembatan Sambas dan jalan raya yang menghubungkan kota Singkawang, Pemangkat dan Sambas serta Bengkayang.

Akan tetapi, keajaiban pun terlihat. Jembatan dan jalan yang dibangun oleh Sultan Moehammad Tsafioeddin II ini tak hancur sedikitpun. Padahal, bala tentara Jepang melihatnya telah hancur. Tak hanya itu. Muntahan peluru dan bom bak hujan lebat itu menerjang apa yang ada di bawahnya. Lucunya, hujan bom dan peluru itu justru jatuh di kawasan hutan belantara.

Padahal sebelumnya, tentara Jepang melihat kawasan yang berada di bawahnya itu merupakan kota yang sangat ramai dan megah. Menurut keterangan, itulah istana dari kerajaan Bunian yang terletak di Paloh. Tentu saja harapan Jepang meluluhlantakkan daerah Sambas tidak tercapai. Sebab lokasi yang dibom tersebut tiada lain hanyalah hutan belantara saja. Karena pengecohan ini kerajaan Sambas yang menjadi target sasaran penyerangan tetap berdiri dengan megahnya.

Sudah barang tentu, Sultan Moehammad Mulia Ibrahim Tsafioeddin, raja ke-15 kerajaan Sambas dan seluruh kawulanya aman dan selamat dari serangan itu. Dan hingga kini jembatan kokoh penghubung kota Sambas dan kota lainnya di Kalimantan Barat tetap berdiri. Ia menjadi saksi bisu sejarah kerajan Sambas. “Orang-orang Bunian akan selalu menjaga Sambas untuk selamanya. Percayalah tak akan ada satu orang pun yang bisa menghancurkan sambas, kecuali seizin Yang Maha Kuasa,” tutur Hasan, kuncen keraton Sambas.

“Sambas tok beh kote kramat. Sian ade yang sanggop nguasaek nye.(Sambas itu kota kramat, tidak akan ada yang bisa menguasainya),” tutur Hasan lagi. Alhasil, baik Sambas maupun jembatan keramat itu masih kokoh berdiri hingga kini.
Readmore...

Cerita kaum bunian di sambas

0 komentar
 
gambar keraton sambas

Masyarakat Kalimantan Barat amat yakin kaum Bunian adalah realita. Seringkali makhluk halus itu membaur dengan manusia, meski tak disadari kehadirannya. Pada saat-saat tertentu, kerap orang melihat kaum Bunian berada di tengah keramaian.

Sang lelembut tampak layaknya manusia biasa. Hanya saja, sebuah ciri fisik tak bisa menutupi mereka. Di wajah mereka tak ada garis antara hidung dengan bibir atas. Alisnya juga menyatu. Parasnya memang aneh dan berkesan menyeramkan.

Ada satu hal yang tidak boleh dilakukan manusia bila berada dekat dengan kaum Bunian: jangan sekali-kali mengikuti ajakannya. Bila itu dilakukan, maka ia akan masuk ke alam gaib mereka dan tidak akan bisa kembali. Pusat komunitas kaum Bunian terletak di sekitar Pantai Selimpai, Kecamatan Paloh. Juga terdapat di seputar Tanjung Batu, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.

Tatanan kehidupan kaum Bunian amat teratur. Itu karena mereka di kelola oleh sistem kerajaan yang tertib. Mereka pun bukan tipe makhluk pengganggu yang suka
meneror manusia. Bahkan sebaliknya, sekali waktu mereka terlihat membaur dengan manusia untuk memberi bantuan.

Kasus perang etnis di Sambas beberapa waktu lalu, konon juga melibatkan kaum Bunian ini. Raja mereka sengaja mengerahkan pasukan Bunian untuk menghalau etnis tertentu yang dianggap mengganggu ketenteraman hidup etnis pribumi. Namun tetap saja perbedaan alam dengan mereka menyebabkan manusia takut.

Pendeknya, kehidupan kaum Bunian bukan sekadar cerita. Tapi benar-benar nyata. Bila ingin menemui kaum Bunian, datanglah ke pusat komunitas mereka di sekitar Pantai Selimpai atau Tanjung Batu. Tentu saja, tidak begitu saja seseorang bisa berhubungan langsung dengan bangsa lelembut ini. Melainkan harus dengan bantuan orang yang menjadi perantara.

Di kedua pantai tersebut, selalu ada orang yang bisa menjadi perantara dengan orang-orang dari bangsa Bunian. Menurut Hendra Sukmana, aktivis LSM yang kini menjabat Ketua Panwaslu Kota Singkawang, tanpa perantara, tak mungkin orang biasa bisa bertemu langsung dengan kaum Bunian. Hanya orang yang punya kemampuan khususlah yang bisa berinteraksi langsung dengan mereka. Tanpa memiliki kemampuan semacam itu, maka orang-orang hanya bisa melihat pantai ini sebagai objek wisata yang indah saja. Tidak lebih dari itu.

Akan tetapi, dalam kondisi tertentu, bisa saja orang biasa berjumpa dengna kaum Bunian. “Sewaktu-waktu orang biasa pun sering berjumpa dengan kaum Bunian yang tengah berada di sekitar mereka. Seperti di pasar-pasar rakyat, di dalam mobil angkutan umum, di pinggir sungai, bahkan di supermarket,” tuturnya kepada penulis.

Nah, ketika itu, terang Hendra, jangan sekali-kali berbuat ceroboh. Misalnya, sok akrab dengan sengaja menyapa mereka. Se¬bab bila tidak memiliki bekal batin yang kuat, kita bisa terpengaruh oleh ajakan mereka. Apalagi bila kaum Bunian yang menampakkan diri itu adalah kaum hawa. “Jika tidak ku¬at iman, kita bisa terpikat. Kalau itu terjadi, maka kita tidak akan bisa kembali ke dunia manusia lagi,” ujar Hendra.

“Diculik” Kaum Bunian

Bila orang kedatangan kaum Bunian, dipastikan bakal dicekam rasa takut. Kemunculannya memang kerap membuat bulu kuduk merinding. Wajar saja, siapa yang tidak takut bila di datangi mahluk halus. Apalagi selama ini berkembang anggapan bila kaum Bunian selalu membawa manusia ke dunianya. Cerita-cerita bangsa manusia sering dibawa ke alam kaum Bunian ini sudah sering terdengar.

Misalnya satu kejadian pada paruh akhir tahun 1995 di daerah Sejangkung, Sambas. Ketika itu ada anak kecil kelas 2 SD yang tidak kembali ke rumah setelah pulang sekolah. Sementara teman-teman lainnya sudah sampai di rumah. Maka keluarga si anak ini pun cemas. Mereka mencari-cari si anak ke rumah neneknya, namun tidak ditemukan. Begitu juga ditanyakan kepada teman-temannya, mereka tidak tahu.

Hingga akhimya, orang tua si anak menghubungi orang pintar di daerah itu. Setelah melalui deteksi batin, orang pintar ini mengatakan bila si anak dalam keadaan selamat. Cuma, saat ini ia tengah berada di tengah lingkungan kaum Bunian. Keterangan itu sedikit banyaknya bisa diterima keluarga. Sebab ketika ditanyakan kepada salah seorang temannya, ia mengatakan bila setelah pulang sekolah, anak ini diajak pergi beberapa anak kecil yang tidak dikenal. Orang pintar ini pun lantas menyimpulkan bila yang mengajak si anak hilang ini adalah anak-anak kaum Bunian.

Mendapat keterangan demikian, orang tua si anak amat cemas. Mereka dihinggapi pikiran negatif jika si anak tak akan bisa kembali lagi ke dunia manusia. Orang pin¬tar yang dimintai bantuan ini malah tersenyum. Ia lalu pamit untuk melakukan sesuatu. Nah, ketika hari mulai senja, tiba-tiba tiupan angin kencang menghantam rupa orang tua si anak hilang.

Peristiwa itu dirasakan betul oleh seluruh penghuni rutnah. Mereka pun dicekam ketakutan luar biasa. Sebab kejadian itu sangat tidak lazim. Di tengah-tengah suasana mencekam itu, tiba-tiba pintu rumah diketuk seseorang. Saat dibuka, ternyata si anak hilang itu sudah berdiri di depan pintu. Orang tua keluarga itu pun merasa senang karena anaknya telah kembali.

Ketika ditanya kemana saja dia pergi, dengan polos anak ini mengatakan bila ia pergi bersama teman-teman barunya naik perahu besar. Lalu dia di bawa berlayar entah ke mana. Meski semuanya orang-orang asing, tapi si anak ini merasa senang. Sebab selain bersama teman-teman baru, dia juga bisa bermain bersama. Menurut si anak, setelah puas bermain, perahu besar itu kembali merapat. Dia kemudian diantar teman-temannya pulang ke runah. Belakangan, teman-temannya itu tiada lain adalah kaum Bunian.

Dibawa ke Alam Gaib

Meski ada yang kembali ke dunia manusia setelah berhubungan dengan kaum Bunian, ternyata banyak pula yang tidak kembali alias terbawa ke alam gaib. Hal itu, bisa terjadi karena beberapa sebab. Pertama, memang sudah dikehendaki manusianya sendiri untuk bergabung dengan dunia Bunian. Ini terjadi bila, umpamanya, seorang pria jatuh hati dengan wanita dari bangsa lelembut itu. Selanjutnya orang ini ingin berhubungan terus hingga kepelaminan. Tentu saja, orang ini tidak akan kembali ke alam nyata.

Sebab kedua, seseorang tergiur oleh ajakan kaum Bunian. Inilah yanag selalu diwanti wanti setiap orang agar berhati-hati dan jangan mudah tergiur ajakan mereka. Ada satu peristiwa di tahun 1990-an. Dulu, pernah ada seorang pemuda bernama Mahyan. Ia dinyatakan hilang. Semula, orang-orang desa mengira dia pergi ke Pulau Tambelan untuk bekerja di bagan, tempat mencari ikan. Namun, pakaiannya di lemari masih utuh. Itu menandakan bila Mahyan tidak pergi kemana-mana, atau pergi tanpa pamit.

Menurut cerita teman-temannya, tadi malam Mahyan berkenalan dengan seorang wanita. Kebetulan sejak beberapa hari lalu, ada pekan hiburan rakyat di depan kantor kecamatan. Nah, sejak berkenalan itu teman-temannya tidak melihat lagi batang hidung Mahyan. Sampai keesokan harinya, Mahyan tidak kembali. Bahkan hingga berhari-hari, minggu, bulan dan tahun. Seterusnya, Mahyan tak diketahui lagi dimana rimbanya. Orang-orang di kampung berkeyakinan bila Mahyan hilang karena di bawah ke alam kaum kaum Bunian.

Ciri Kaum Bunian

Fenomena kaum Bunian sudah mendarah daging dalam masyarakat Sambas. Meski kerap muncul rasa takut bila didekati kaum Bunian, namun masyarakat di sana sudah terbiasa. Malah boleh dikata, mereka tak merasakan lagi adanya persoalan. Meski begitu, membicarakan soal Bunian bagi mereka, adalah tabu. Mereka lebih memilih diam dari pada bercerita kaum Bunian. Atau kalaupun menceritakannya, tapi secara bisik bisik. Seolah-olah takut nada bicaranya didengar orang lain, terutama kaum Bunian.

Bila tiba-tiba mereka merasakan kedatangan kaum Bunian, orang-orang Sambas lazim mengatakan, "Oh, insanak datang!" Setelah itu secara tak diam-diam dia akan menjauhi orang Bunian itu. Bisakah kaum Bunian ini dibedakan dengan manusia biasa? Tentu saja bisa. Bahkan perbedaannya amat menyolok. Rudi Fitrianto (38), warga Kota Singkawang, mengatakan bila perbedaan itu tampak pada penampilan fisik.

Misalnya pada bagian wajah. Kaum Bunian dikenal tidak memiliki garis atau tepatnya lekukan yang memanjang antara hidung den¬gan bibir atas. "Itu adalah ciri kodrati kaum Bunian,” tutumya. Inilah ciri fisik yang sangat jelas membedakan kaum Bunian dengan manusia. “Kalau kita melihat seseorang yang tidak memiliki garis bibir itu, maka dipastikan orang itu adalah kaum Bunian,” tuturnya lagi.

Ciri lainnya, kaum Bunian memiliki bentuk alis yang khas. Alisnya lebat dan tampak seperti menyatu. Ciri seperti ini, boleh jadi terdapat pada sebagian kecil manusia. Selebihnya, bentuk fisik kaum Bunian dengan manusia nyaris sama. Misalnya soal tinggi badan. Karena itu, bila berpapasan secara sepintas, nyaris seseorang tak dapat membedakan dia adalah Kaum Bunian atau manusia. Selebihnya, terang Rudi, wujud kaum Bunian memang halus. Sehingga banyak orang menyebutnya makhluk halus atau lelembut.

Meski mereka mahluk halus yang terkadang menampakkan diri, ada orang-orang tertentu yang bisa melihat kaum Bunian dalam keadaan secara kasat mata. Mereka adalah orang-orang tua dan anak-anak kecil, meski tidak semuanya. Beberapa tahun lalu, ketika pecah perang etnis di Sambas, banyak anak-anak kecil yang sering duduk dipinggir sungai Sambas. Ketika ditanya mengapa duduk-duduk di situ, mereka menjawab sedang melihat kapal besar yang mengangkut banyak orang. Kapal itu terlihat menuju Keraton Sambas.

Kebenaran cerita anak-anak itu diperkuat kenyataan bila di halaman Keraton Sambas, secara tiba-tiba berkibar bendera wama kuning. Itulah bendera khas Kerajaan Sambas tempo dulu, yang sejak lama tidak pernah dikibarkan. Keadaan itu memberikan sinyal bila bangsa Bunian tengah berkumpul di sekitar Keraton Sambas. Hanya saja wujud mereka tidak terlihat. Dan pada malam harinya, warga Sambas melihat kotanya sangat ramai sekali. Namun mereka sama sekali tidak mengenal orang-orang itu datang dari mana.

Asal Usul Kaum Bunian

gambar pemandangan di sambas
Tidak bisa dipungkiri kemunculan Kaum Bunian sedikit banyak memberi perasaan takut dalam diri manusia. Meski mereka sebenarnya tidak mengganggu. Kemunculannya kerap membuat bulu kuduk merinding. Maklum, perbedaan alam mereka telah membuat semacam jurang pemisah. Padahal, bila ditelusuri, asal usul kaum Bunian ini adalah manusia juga. Keberadaan mereka sangat erat hubungannya dengan kerabat Keraton Sambas. Siapakah sebenarnya kaum Bunian ini ?

Tahun 1757 M, Kerajaan Islam Sambas berada di puncak kejayaan. Raden Djamak yang bergelar Sultan Oemar Aqqamaddin (II), naik tahta. Ia mengantikan ayahanda Sulta Abubakar Kamaluddin, keturunan Sultan Hasan Ibnu Syaiful Rizal. Keraton Sambas kerap pula disebut istana Alwaat Zik Hubbillah. Keraton ini terletak di muara Ulakan yang menghadap persimpangan tiga cabang anak sungai, yakni Sungai Sambas, Sungai Teberau dan Sungai Subah.

Diujung utara berlatar belakang Gunung Senuju yang melengkung hijau, sementara di sebelah timur berderet bukit barisan yang dinamakan Pegunungan Sebedang. Di muara Sungai Sambas selatan diapit dua gunung, yaitu Gunung Gajah dan Gunung Kalangbau. Karena kondisi geografis itulah, negeri Sambas menjadi terkenal. Negeri itu aman dan makmur dengan julukan “negeri laksana kembang setaman”.

Keraton Sambas didirikan oleh Raden Sulaiman yagn bergelar Sultan Muhammad Tsafiuddin I di Tanjung Muara Ulakan Lubuk Madung, tahun 1687 Miladiyah. Atau bertepatan dengan tahun 1680 Hijriah. Raden Sulaeman adalah putra dari Giri Mustika, Raja Tengah, yang menikah dengan putri Surya Kencana, adik raja Panembahan yang memerintah Kerajaan Tanjungpura. Perkawinan itu terjadi karena kapal yagn ditumpangi Raja Tengah dihantam badai di sekitar Pulau Tanjung Datuk. Kejadiannya saat ia pulang dari Keraton Johor menuju Sarawak.

Tanjung Datuk sendiri terkenal angker. Menurut cerita, Tanjuk Datuk atau Paloh itu adalah pusat pemerintahan orang-orang Bunian. Kerajaan Sambas Tua terletak di Kota Lama dan berada di wilayah Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Kerajaan itu dikenal dengan nama Kerajaan Ratu Sepudak, yang merupakan pendiri kerajaan kecil itu pada jaman sebelum masuknya pengaruh Islam ke Sambas.

Menurut beberapa sumber, kerajaan kecil di Paloh pada mulanya dipimpin oleh Pangeran Prabu Kencana yang bergelar Ratu Anom Kesuma Yoeda. Lengsernya beliau dari tahta pemerintahan karena pemberontakan yang dilakukan oleh anak angkatnya yagn berasal dari negeri Bunian bernama Tan Nunggal. Dan menurut cerita dari mulut ke mulut di kalangan kerabat istana, yagn saat ini memerintah di Kerajaan Bunian adalah keturunan raja sambas bernama Raden Sandi. Raden Sandi dinyatakan menghilang dari kerajaan, karena diambil kaum Bunian.

Menurut Hasan (65), kuncen Keraton Sambas, yang juga masih keturunan Pangeran Bendahara, putra Sultan Moehammad Tsafiuddin II, menolak jika raibnya sang pangeran karena diambil untuk dijadikan raja di Kerajaan Bunian. “Itu tidak benar. Tidak ada orang Bunian yang mengambil Raden Sandi. Beliau Raib karena kehendak Allah semata,” tuturnya.

Raden Sandi Braja, kata Hasan, adalah salah satu putra raja Sambas Sultan Moehammad Tsafioeddin II. Ia termasuk sosok yang jenius dan mampu menyelesaikan sekolah sekolah sebelum waktunya. Tanggal 8 Desember 1890, ia melanjutkan sekolah ke tanah Jawa diantar Menteri Pangeran Tjakranegara Pandji Anom. Keberangkatannya bersamaan dengan diasingkannya sang ayahanda ke tempat pembuagnan oleh Penjajah Belanda.

Raden Sandi dan saudaranya Raden Mohammad diserahkan kepada Tuan Bestantjesdijk, direktur Opleideing School di Bandung. Dan, lima tahun kemudian keduanya kembali setelah berhasil menyeelsaikan pelajarannya dengan baik. Seusai itu ia langsung diangkat menjadi putra mahkota, namun belum sempat menduduki tahta, beliau meninggal dunia.

Ada beberapa versi soal kematian Raden Sandi Braja. Konon, sang pangeran muda jatuh cinta pada seorang gadis dalam lingkungan istana. Sayangnya, hubungan itu tidak direstui Datu Sultan. Maklum, sang gadis ternyata masih saudara sendiri. Ini sangat dipantangkan di keraton.

Sebenarnya, sang pangeran mdua itu telah dijodohkan dengan gadis yagn berasal dari Negeri Titis Sepancuran, Brunai Darussalam. Karena memang begitulah pesan leluhur memerintahkan. Tapi ia tetap saja menolak, sampai akhirnya mengambil jalan tengah. Dengan lapang dada ia menerima saran dari ibundanya. Sarannay, jika tetap menolak untuk dijodohkan dengna puteri dari Brunai, maka ia diperbolehkan mencari puteri dari negeri lain, asalkan bukan dengan saudara sepupu sendiri. Maka berangkatlah Raden Sandi ke negeri Johor.

Tapi, baru beberapa bulan di sana, ia mendapat kabar bahwa kekasihnya telah dinikahkan dengna seorang lelaki asal negeri Siak. Mendengar kabar tidak sedap itu, Raden Sandi langsung membatalkan perantauannya. Ia pulang ke Sambas untuk membuktikan kebenaran kabar iut. Dan, kenyataannya telah membuatnya sakit hati. Ia tak menyangka ayahandanya sampai hati memtuuskan hubungan mereka. Maka tanpa pikir panjang lagi, Raden Sandi melampiaskan amarahnya. Ia mengamuk dan tak seorang pun mampu menahan kehebatannya.

Usai melampiaskan kemarahannya, ia bersumpah tak akan menduduki tahta kerajaan dan akan meninggalkan Sambas selama-lamanya. Agaknya, takdir berkehendak lain. Belum sempat Raden Sandi meninggalkan istana Sambas, ia terserang penyakit yang tak ada obatnya. Penyakit itu akhirnya merenggut jiwanya. Namun sebuah keajaiban terjadi.
Sesaat setelah mengembuskan nafas, tubuh Raden Sandi hilang entah ke mana. Yang tinggal hanyalah batang pisang. Raden Sandi hilang secara misterius.

Menurut sebagian kawula istana, jenazah putra mahkota itu lenyap misterius dan digandi batang pisang. Tapi banyak pula yagn mengatakan bila ia mati diambil oleh orang Bunian di Paloh. Konon, itu sebagai tebusan atas nyawa burung peliharaan Putri Kibanaran (Orang Bunian) yagn tewas saat Raden Sandi berburu di hutan Paloh. Orang pintar dari keraton menyatakan bahwa Raden Sandi Braja telah menjadi raja di Negeri Kibanaran.

Belakangan, ada beberapa sumber yang menyebut bahwa dulu pernah ada pengusaha dari Singapura yagn pergi ke Bandar Paloh dan berjumpa dengan Raden Sandi. Dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan betapa suasana di Bandar Paloh sangat ramai dan sibuk, laksana pelabuhan laut sebuah negara besar. Transaksi dagang dengan Raden Sandi pun berlangsung. Tapi apa yang terjadi.

Saat sang pengusaha yang bernama Taib bin Djasman membuka map transaksi di depan rekannya dari Jakarta, kertas berharga itu hanyalah selembar daun sirih yang sudah layu. Dengan penasaran sang pengusaha itu kembali ke Bandar Paloh. Tapi, yang didapat di sana berbeda. Yang dia lihat sekarang hanyalah sebuah desa dan pasar kecil di pinggir sungai kecil. Sebagian kawasan masih ditumbuhi hutan lebat

Sisi Lain Dari Keraton Sambas

gambar keraton sambas
Masa keemasan Kerajaan Sambas telah berakhir. Namun sisa-sisa kebesarannya masih bisa disaksikan hingga kini. Salah satunya adalah keberadaan Keraton Sambas yang masih berdiri kokoh di sisi muara dari tiga cabang anak sungai di Sambas. Rasa hormat masyarakat pun masih tinggi terhadap keluarga keraton. Uniknya, banyak kisah-kisah kisah seputar keraton yang sulit diterima logika. 

Sulit rasanya mencari keterangan lengkap asal mula nama Sambas. Namun, cerita rakyat, menyebut bahwa nama Sambas berasal dari dua orang sahabat yakni Samsudin dan Abas. Samsudin berasal dari Suku Daya dan Abas suku Melayu. Di antara mereka ada seorang tokoh keturunan Tionghoa. Dalam bahasa Cina, persahabatan mereka disebut Sam yang artinya tiga. Maka orang-orang Tionghoa di sana menyebut mereka Sambas.

Menurut satu versi, asal mula Sambas berasal dari Paloh, pusatnya kerajaan urang Kibanaran atau kaum Bunian. Dan orang yang kali pertama kawin dengan kaum Bunian adalah Samsudin. Sejak perkawinannya dengan kaum Bunian di Paloh, Samsudin tidak pernah memperlihatkan dirinya lagi. Dikabarkan bila Samsudin telah menjelma menjadi bangsa Kibanaran atau kaum Bunian. Wujudnya menghilang dan tak nampak lagi oleh pandan¬gan mata.

Namun meski berbeda alam, Samsudin masih mengikuti kedua sahabatnya. Ke manapun mereka pergi, Sam selalu ikut. Begitu pula sebaliknya. Persahabatan mereka kekal dan dikenal sejarah hingga kini. Sampai suatu ketika, ketiga sahabat ini meneguhkan perjanjian untuk tidak saling menyakiti sampai akhir hayat. Sejak itu seakan tercetus ikrar antara suku Dayak yang disebut orang darat dan suku Melayu yang disebut orang Laut.

Sebagai tanda ikrar, diambillah sebongkah batu bekas reruntuhan Gunung Sibatu. Terucaplah ikrar keramat mereka, "jika batu itu timbul, maka akan perang orang darat melawan orang laut. Serta merta dengan ikrar, dibuanglah batu di persimpangan Sungai Tibarrau dan Sungai Subah.Tiba-tiba air tempat jatuhnya batu berputar, seperti hendak memberikan peringatan bahwa janji yang dibuat tak boleh dilanggar.

Sampai saat ini, masih bisa disaksikan air di sekitar tempat itu masih berputar. Orang-orang Sambas menyebutnya Muara Ulakkan, karena air mengulak atau berputar. Akhirnya tercetuslah nama Sambas yang berasal dari Samsudin dan Abas. Daerah itupun dikenal banyak buayanya. Salah satunya terdapat seekor bu¬aya kuning. Oleh penduduk di sana, raja air itu dinamakan Nek Goro atau Nek Agou. Bila cuaca hujan rintik yang dibarengi sinar matahari (hujan panas), buaya ini akan menampakkan diri. Ia berenang hilir mudik dengan tenangnya.

Sumur Keramat

Di sisi Keraton Sambas, terdapat sebuah sumur yang airnya berwarna keputih-putihan. Sumur ini sangat dikeramatkan karena memiliki keampuhan. Bagi warga Sambas, kisah beberapa tahun lalu masih terngiang-ngiang. Beberapa tahun silam, sumur keraton ini sangat populer. Tepatnya ketika meletus kerusuhan antarsuku yang memakan banyak korban. Tragedi berdarah itu terekam dalam lukisan besar di dalam ruangan utama Keraton Sambas. Sehari-harinya, air sumur ini tak pernah digunakan. Sebab keluarga keraton lebih sering memakai air sungai untuk keperluan sehari-hari.

Menurut cerita, air sumur ini memiliki keampuhan yang sangat luar biasa. Hanya saja, keajaiban air sumur ini muncul bila terjadi suatu keadaan darurat. Misalnya setelah minum air sumur ini, tubuh menjadi kebal terhadap ba¬cokan berbagai jenis senjata tajam. Selain itu, orang yang meminumnya bisa tumbuh kepercayaan diri yang kuat dan keberanian luar biasa.

Dahulu, ketika tentara Jepang dan Belanda menguasai Sambas, kelakuan mereka sangat kejam dan bengis. Selain menindas, mereka juga kerap menyiksa rakyat. Tidak sedikit korban jiwa terenggut. Untunglah, air sumur keramat Keraton Sambas bisa menjadi solusi. Setelah meminum air sumur ini, orang pun jadi kebal. Selain itu muncul pula keberanian orang ini untuk untuk melawan kaum jenjajah.

Ada satu orang yang disebut-sebut berada dibalik kemujaraban sumur keramat ini. Dia adalah Raden Sandi Braja, putra mahkota Kerajaan Sambas, yang kemudian menjadi Raja di negeri kaum Bunian. Dengan kesaktiannya Raden Sandi membuat air sumur itu menjadi mujarab. Konon, tujuannya membuat sumur ini tak lain agar keluarga dan kawula Keraton Sambas dapat membela diri dan sekaligus terhindar dari penindasan bangsa lain.
Readmore...